Rabu, 03 April 2013

A Happy Marriage


     Keharmonisan dalam rumah tangga tidak hanya diisi dengan kebahagiaan antara suami istri dan juga anak-anak, tetapi juga ada kehidupan seksual yang ada antara suami dan istri. Tetapi, bagaimana kalau kehidupan seksual mulai terganggu karena salah satu pasangan mengalami disfungsi seksual yang menyebabkan kurangnya gairah seksual, dan kurang bisa untuk rileks, mungkin ini menjadi momok bagi sebagian besar orang, karena dapat menurunkan rasa percaya diri karena menganggap tidak bisa “memuaskan” pasangan. Banyak faktor yang membuat seseorang mengalami disfungsi seksual, salah satunya adalah mengkonsumsi obat-obatan. Karena masalah ini banyak pasangan mulai mengalami masalah, dari mulai tidak akur sampai berujung pada perceraian.

     Maka dari itu, diperlukannya komunikasi dan sikap saling mengerti antar pasangan, karena mungkin pasangan merasa lelah bekerja dan mempunyai masalah di pekerjaannya. Dan jangan jadikan seks sebagai faktor utama dalam pernikahan, karena banyak faktor yang tidak kalah penting lainnya. Dan apabila pasangan mengalami masalah seksual diatas segera cari solusi dan jalan keluar, jangan menyalahkan dan membuat pasangan semakin terkucilkan karena itu akan membuat masalah semakin besar.


"The relationship between husband and wife should be one of closest friends."

Rabu, 27 Maret 2013

Gifts from God


Gambar diambil dari www.babyaxioo.com


     Kedua belah pasangan yang telah menikah pasti mempunyai banyak tujuan dalam pernikahannya, salah satunya adalah mempunyai keturunan. Beberapa pasangan mungkin langsung membuat keputusan setelah menikah langsung mempunyai anak, namun sebagiannya lagi tidak, mungkin dikarenakan setelah menikah ingin berduaan dulu, sehingga bulan madunya lebih lama. Namun, sebagiannya lagi setelah lama menunda akhirnya semakin sulit mempunyai momongan, padahal salah satu tujuan menikah adalah meneruskan keturunan. Banyak sekali faktor yang mempengaruhi, yaitu: faktor usia, faktor biologis, seperti banyak yang orang bilang kalau perempuan itu mempunyai expired date'nya, tapi memang itu benar adanya semakin tua umur perempuan maka kemungkinan untuk hamilnya semakin kecil. Maka dari itu, banyak mitos yang mengatakan kalau belum-belum mendapatkan momongan sebaiknya mengadopsi anak terlebih dahulu, katanya anak itu sebagai "pancingan" agar si ibu bisa hamil, namun itu hanya lah mitos semata, karena sampai saat ini belum ada penelitian ilmiahnya mengenai hal itu.


     Lain halnya dengan pasangan yang merasa cukup untuk memiliki anak, mereka lebih memilih untuk menggunakan alat kontrasepsi untuk membantu sang ibu tidak hamil lagi. Di pasaran begitu banyak alat kontrasepsi, dari yang jelas sampai ke yang antah beratah. Alat kontrasepsi tidak hanya dipakai oleh pasangan yang sudah memiliki anak saja, tapi juga dipakai bagi pasangan yang merasa belum mau punya anak. Untuk hal ini sangat penting untuk diketahui oleh kedua belah pasangan, hal-hal apa saja yang harus dilakukan, dan harus terus-menerus dilakukan cek agar tahu kalau misalnya ingin mempunyai anak, kita bisa tahu apa hormonnya sudah kembali normal atau belum, dsb. Dalam hal ini sangat penting untuk didiskusikan dengan pasangan jika perlu sebelum menikah agar tidak menimbulkan perdebatan nantinya, ingin mempunyai anak berapa, selisih usianya berapa, jenis kelamin anak. Berbicara tentang jenis kelamin, banyak dari kita telah tahu kalau ingin mempunyai anak laki-laki itu sulit, sulit kenapa? karena untuk mendapatkan anak berjenis kelamin laki-laki masa subur sang ibu harus sedang pada tahap yang tinggi-tingginya, sang ibu sangat mencintai suaminya, dan suaminya harus dalam keadaan sangat sehat. Maka dari itu, penting bagi perempuan untuk mencatat tanggal mentruasinya untuk mengetahui masa suburnya (disarankan dari sekarang).


"a baby will make love stronger,  days shorter, nights longer, bank balance smaller, home happier, clothes dirty, the past forgotton, and the future worth living for."





Gambar diambil dari www.babyaxioo.com

Rabu, 20 Maret 2013

We'll Grow Old Together



Banyak sekali kalau kita melihat di televisi, terutama para selebritis yang bercerai terkadang karena tidak kuat menghadapi badai masalah, hal ini dikarenakan fondasi yang tidak kuat. Tanpa fondasi yang kuat, tidak ada rumah yang dapat tetap berdiri tegap menghadapi badai. Sama halnya di dalam sebuah keluarga, kekuatan berdirinya sebuah keluarga adalah memiliki fondasi yang kuat. Suatu fondasi yang kuat sangat penting untuk pernikahan, bahkan sebelum pernikahan yaitu pada masa berpacaran. Cinta, komitmen, kepercayaan, dan sikap saling menghormati merupakan fondasi yang dibutuhkan dalam setiap hubungan. Hubungan yang sehat juga bukan lah hubungan yang lurus, mulus tanpa liku, melainkan hubungan yang sehat adalah hubungan yang pernah memiliki masalah dan mereka mampu melewatinya sehingga semakin lama hubungan mereka semakin kuat dan dewasa.

Banyak perempuan yang mendambakan hidup seperti film cinderella, yang di mana bertemu dengan pangeran, menikah, lalu happily ever after. Hidup ini tidak seperti di film atau di dongeng-dongeng yang memiliki pengarang, sutradara, produser, penulis skenario. Kita juga hanya mengetahui kisah cinderella sampai menikah saja, kita semua tidak pernah tahu bagaimana keadaan rumah tangganya seperti apa, apakah cinderella mengalami kekerasan atau sebagainya bukan? Maka dari itu, sebelum kita memutuskan untuk menikah kita harus benar-benar mengenal siapa calon pasangan hidup kita, apakah ketika ada masalah mampu menyelesaikannya dengan baik tidak, apakah benar-benar cocok atau tidak,  karena kita tidak hanya menikahi kelebihan pada diri si calon saja, tetapi kelemahan bahkan sifat buruknya pun kita harus menerimanya. Karena banyak orang yang setelah menikah baru menyadari kalau mereka sebenarnya tidak cocok, atau sifat aslinya baru terlihat. Jadi, sebelum memasuki ke dalam tahap pernikahan ada baiknya mengenal satu sama lain, bersikap terbuka, dan apa adanya.


“Marriage is not about the wedding, the wardrobe, the presents, the parties, the honeymoon, and who is your partner. Marriage is about a serious-life changing commitment and how you’ll grow old together.”


Gambar diambil dari www.axioo.com

Rabu, 13 Maret 2013

Why do people fall in love ?

Bagaimana kita bisa mencintai seseorang? apa karena takdir? bagaimana kita bisa tahu kalau orang itu adalah pasangan kita? Well, menurut saya jodoh itu memang ada, tapi tergantung pada diri kita sendiri mau menerima jodoh itu atau mencari yang lain. Jadi bagaimana kita bisa mencintai seseorang? Dari film yang saya nonton di kelas kemarin, proses mencintai tidak hanya terbatas dari betapa cantik/ganteng orang itu, atau bagaimana sifat dan perilaku orang itu, tatapi banyak factor yang mempengaruhi. Hal ini berbeda pada pria dan perempuan, pada pria hal pertama yang dilihat adalah fisik perempuan tersebut. Pria cenderung menyukai perempuan yang memiliki tubuh yang berisi, hal ini berkaitan dengan tingkat kesuburan perempuan itu. Sedangkan pada perempuan lebih melihat hal yang ada pada diri pria tersebut, sifat, tingkah laku, bagaimana pria itu memperlakukan orang lain.


Berbeda dengan pria, perempuan lebih cenderung mencari pria yang mapan, dalam arti status ekonomi yang terjamin. Sedangkan pada pria jika pria itu ingin menuju hubungan yang lebih serius, pria cenderung mencari perempuan yang bisa mengurus rumah tangga, dan mampu menjaga anak-anaknya, tidak hanya menarik secara fisik semata. Selain itu, aroma tubuh juga berperan dalam bagaimana kita menyukai orang lain. Ada beberapa aroma yang mungkin kita sukai terdapat pada orang tersebut, itu lah mengapa produsen gencar membuat parfum, tidak hanya membuat kita percaya diri karena wanginya parfum tersebut, tetapi juga untuk menarik perhatian lawan jenis.


“Jangan mencari orang yang sempurna, karena kamu tidak akan pernah menemukannya. Tetapi carilah orang yang tidak sempurna, yang bisa membuat hidupmu menjadi sempurna, seseorang  masih membutuhkan cintamu, perhatianmu, dan dukunganmu.”

Rabu, 06 Maret 2013

They are

Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, mendukung, terlebih lagi diciptakan menjadi sepasang. Namun seiring berjalannya waktu ke waktu, beberapa laki-laki tidak lagi mencari perempuan untuk dijadikan pendampingnya, beberapa pria itu mulai bersama pria untuk dijadikan teman bicara atau sebagai kekasih, begitupun juga sebaliknya dengan perempuan. Yang biasanya terjadi karena sang individu tersebut pernah disakiti oleh orang yang dikasihi sebelumnya, atau karena trauma di masa lalu. Berkaitan dengan topik ini, saya ingin berbagi cerita teman saya yang menyukai sesama jenis. Teman saya bercerita kalau ia dari kecil itu diperlakukan oleh ibunya layaknya seorang perempuan, ibunya senang sekali memakaikan hiasan rambut yang lucu kepada teman saya sambil berkata "anak mama lucu sekali", sehingga lambat laun teman saya ini berpersepsi bahwa sebenarnya ia itu adalah perempuan, tetapi berfisik laki-laki, ia juga menganggap semua perempuan itu adalah saudara dia.




Menurut saya pribadi individu itu menyukai lawan jenis atau sesama jenis itu adalah hak mereka, karena setiap individu itu mempunyai hak untuk memilih dan menentukan kepada siapa mereka menaruh hati. Kita sebagai individu yang mungkin memiliki teman yang suka sesama jenis hendaklah menerima mereka, karena mereka itu bukan lah wabah penyakit yang harus di hindari, mereka itu juga manusia yang butuh teman untuk saling berbagi cerita dan dorongan :)

Rabu, 28 November 2012

Child and Parents

Seorang anak yang berumur lima sampai enam tahun biasanya sangat bersemangat untuk bersekolah dan bermain dengan saudara ataupun teman-temannya. Namun, pada sebagian anak tidak bisa merasakan hal itu, anak tersebut diharuskan bekerja oleh orangtuanya untuk membantu perekonomian keluarga. Saya jadi teringat dengan cerita dosen saya di perkuliahan, di salah satu Negara tersebesar seorang anak dipekerjakan untuk membantu orangtuanya dalam penjualan barang ilegal, pada saat melewati imigrasi ayahnya meminta anaknya yang menyimpan barangnya di tas sekolah anaknya agar barang tersebut tidak ketahuan oleh penjaga imigrasi. Ada sebuah cerita lagi yang membuat saya terkejut, bayi yang baru lahir diperjual-belikan tidak hanya untuk masalah aborsi atau pancingan, melainkan juga sebagai alat untuk menyimpan obat-obat terlarang. Jadi, pada saat di bandara pasangan suami istri berserta membawa "anaknya" untuk pergi ke suatu tempat dengan alasan liburan, namun ternyata pesawat yang mereka tumbangin itu mengalami keterlambatan yang cukup lama, pada saat itu salah satu petugas bandara melihat bayi itu terlihat biru dan mengeluarkan busa dari mulutnya. Setelah diperiksa ini itu, ternyata terdapat banyak obat terlarang di perut sang bayi!!! 



Orangtua adalah orang yang harus kita hormati, karena mereka lah yang merawat kita dari kecil. Orangtua yang ketika mereka sudah lansia kerap dimasukkan oleh anggota keluarganya ke panti werdha yang mungkin dikarenakan anak-anaknya terlalu sibuk hingga tidak bisa mengurusi orangtuanya, walaupun demikian ada juga sebagian dari mereka sendiri yang mau masuk ke panti werdha. Di panti werdha mungkin anaknya berpikir bahwa orangtua mereka akan dirawat dengan baik, namun kenyataannya tidak demikian. Kebanyakan mereka tidak dirawat dengan baik, dan mereka pun kebanyakan merasa kesepian dan merindukan anak-anaknya.  Tak dipungkiri, ada dari mereka yang mengalami stress hingga depresi karena tidak ada yang bisa di ajaknya untuk sharing, berbagi pengalaman, dan keinginan mereka.


Ada kutipan dari yang pernah saya baca, dia menuliskannya seperti ini: "Mengapa orangtua selalu menganggap anaknya itu sebagai anak kecil? Karena orangtua sangat mencintai anaknya dari sebelum lahir hingga mereka meninggal."

As Family

Keluarga adalah tempat dimana kita merasa aman dan nyaman. Bagaimana jika sebuah rumah bukanlah tempat yang tidak nyaman lagi jika ada anggota keluarga yang melakukan kekerasan terhadap anggota keluarganya yang lain? Menurut data KOMNAS perlindungan perempuan  kasus KDRT pada tahun 2010 meningkat sekitar  6,25% dan diprediksi akan meningkat tiap tahunnya. Faktor utama terjadinya kasus KDRT adalah dominasi suami terhadap istri dan faktor ekonomi. Kekerasan ekonomi yang dialami korban sebagian besar adalah tidak diberi nafkah untuk biaya hidup sehari-hari, dalam bentuk lainnya adalah korban ditelantarkan suaminya yaitu ditinggal pergi oleh suaminya sehingga otomatis juga tidak diberi nafkah. Penelantaran yang dilakukan oleh suami ini banyak dilatarbelakangi oleh adanya perselingkuhan. Dalam beberapa kasus kekerasan ekonomi (penelantaran) terdapat korban yang akhirnya sampai menjadi PSK, karena dia harus menanggung biaya hidup dirinya dan anak-anak yang tinggal bersamanya. Kekerasan tidak hanya pada hubungan keluarga saja, namun bisa saja terjadi pada hubungan berpacaran, kekerasan yang biasa dilakukan adalah baik dalam bentuk fisik, psikologis, maupun seksual disebabkan karena hubungan yang tidak seimbang, tidak ada keberanian untuk menolak apalagi melawan.


Kekerasan dalam keluarga, terutama kekerasan seksual pada anak juga kerap terjadi. Namun, kekerasan seksual pada anak jarang melaporkannya ke pihak berwenang karena dianggap itu sebagai aib keluarg. Tak jarang pelakunya pun merupakan anggota keluarganya sendiri, seperti saudara kandung, ayah tiri, dan paman. Biasanya pelaku memberikan ancaman jika hal tersebut diberitahukan ke orang lain. Bentuk kekerasan seksual terhadap anak dapat berupa langsung dan tidak langsung. Kekerasan seksual langsung misalnya, meraba tubuh seperti payudara atau bokong, sedangkan kekerasan seksual secara tidak langsung yaitu seperti eksibisionisme atau pornografi pada anak seperti memotret atau merekam  bagian tubuh anak. Ada beberapa ciri anak yang mengalami sexual abuse, yaitu: perubahan perilaku, anak tiba-tiba berubah menjadi pendiam, tidak nafsu makan, sulit tidur, takut, sulit berkonsentrasi, hilangnya kepercayaan kepada orang lain, menjadi depresi, hingga sampai berniat untuk melakukan bunuh diri.
Anak adalah titipan Tuhan, hendaknya kita menjaga dan merawatnya dengan baik, agar tumbuh dengan baik pula.